Opini : TANTANGAN MAHASISWA SELAMA KULIAH ONLINE DI MASA PANDEMI COVID-19

Website Resmi HMJ KPI

Format :

Tantangan Mahasiswa Selama Kuliah Online di Masa Pandemi Covid-19

Nisa Oktaviani

 

Sejak pandemi coronavirus disiase atau yang lebih dikenal dengan sebutan Covid-19 masuk ke Indonesia dengan temuan kasus positif pertama pada 2 Maret 2020 lalu, sejumlah kebijakan atau langkah-langkah terkait dengan penanganan dan pencegahan wabah mematikan ini, diterapkan pemerintah Indonesia. Mulai dari penerapan social distancing, physical distancing, hingga penerapan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dilakukan. Tujuannya tak lain, agar mata rantai penyebaran Covid-19 ini dapat segera diputus. Covid-19 (coronavirus disease) tersendiri merupakan sebuah virus yang  menyerang pernafasan manusia. Coronavirus merupakan keluarga virus yang menyebabkan penyakit mulai dari gejala ringan hingga berat, jenis coronavirus diketahui menyebabkan penyakit yang dapat menimbulkan gejala berat seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

 

 

Penyebabaran virus Covid-19 yang terus meningkat membawa dampak yang besar terhadap berbagai aspek kehidupan. Salah satunya pendidikan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim menerbitkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat coronavirus disease (Covid-19). Salah satu pokok penting dalam edaran ini adalah  memastikan pemenuhan hak peserta didik untuk mendapatkan layanan pendidikan selama darurat Covid-19, melindungi warga satuan pendidikan dari dampak buruk Covid-19, mencegah penyebaran dan penularan Covid-19 di satuan pendidikan. Dengan adanya surat edaran tersebut, membuat seluruh perguruan tinggi di Indonesia menerapkan kebijakan kuliah daring online. Proses perkuliahan yang tadinya dilakukan secara konvensional (tatap muka) harus bertransformasi menjadi daring (online).

 

 

Melalui perkuliahan daring (online) mahasiswa dapat belajar seperti biasanya dan tidak akan ketinggalan materi perkuliahan, serta waktu yang lebih fleksibel.  Namun, perkuliahan daring (online) ini tidak sepenuhnya disambut baik oleh para mahasiswa. Perubahan sistem pembelajaran yang mendadak, membuat banyak pihak belum sepenuhnya siap atas kebijakan tersebut. Selama perkuliahan daring (online) kegiatan pembelajaran pun dilaksanakan dengan  metode daring. Berbagai aplikasi, seperti Webex, Zoom, Skype, Microsoft teams, Googlemeet Google Clasroom, asyncronous, semisal eLisa, Elok, Elearning Farmasetik Whatsapp Group dan lain-lain.

 

 

 

Sayangnya hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa. Salah satunya adalah ketersediaan layanan internet. Data penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa mengakses internet menggunakan layanan selular, sementara sebagian kecilnya menggnakan layanan  WiFi. Dengan demikian mahasiswa yang menggunakan layanan seluler akan lebih banyak memakan biaya, dibandingkan dengan mahasiswa yang memakai jaringan WiFi. Di sisi lain, mahasiswa  biasaya  tidak  mendapatkan  uang  harian apabila mereka berada di rumah,  padahal   kebutuhan   untuk   biaya   paket   cukup besar,  kondisi  keuangan  orang  tua  pun belum tentu baik selama Pandemi Covid-19 ini. Pihak   kampus   juga   diharapkan   memberikan solusi   dan   bantuan   kepada   mahasiswa   untuk mengatasi   persoalan   ekonomi   yang   dihadapi oleh mahasiswa.

 

 

 

Selain ketersediaan layanan internet, tantangan selanjutnya bagi mahasiswa adalah materi yang disampaikan oleh dosen tidak sepenuhnya dimengerti oleh mahasiswa. Mahsiswa merasa sulit berkomunikasi dan  berdiskusi  dengan  dosen  pada  saat  proses belajar    berlangsung    sehingga    banyak    yang miskomunikasi, beberapa mahasiswa menganggap respon dosen saat berdiskusi sangat lambat. Selain itu, banyak dosen yang hanya menggunakan aplikasi online sebagai tempat “meletakkan” bahan ajar dan tugas, kemudian beberapa dosen juga tidak memberikan umpan balik atau feedback (penjelasan dan klarifikasi) atas materi yang telah dipelajari. Sebagai gantinya, dosen justru memberikan tugas yang porsinya lebih besar daripada kegiatan pengajaran. Harapan bahwa tugas dapat membantu mahasiswa untuk lebih aktif, kreatif, dan mampu belajar secara mandiri yang nyatanya tidak sesuai.

 

 

Persoalan   saat   proses   belajar mengajar dari   tatap   muka   menjadi   daring   (online) memberikan  tantangan  tersendiri  kepada  para pengajar     dan     mahasiswa     selama     kondisi pandemi  Covid-19  yang  tidak  dapat  diprediksi. Kondisi  ini  memaksa  Perguruan  Tinggi  tetap menerapkan  protokol  keselamatan  kepada  dosen dan  mahasiswanya.  Para  pendidik  diharapkan mampu beberikan rasa peduli dan peka terhadap kondisi  mahasiswa  baik  secara  mental  maupun ekonomi.  Proses  belajar  mengajar  diharapkan menjadi   proses   yang   menarik,   tidak   menjadi beban  dan  saling  memberi  dukungan  sehingga tujuan    dari    proses    belajar    mengajar    dapat tercapai.  Pengajar  perlu  melakukan  inovasi  dan kreatifitas   di dalam   proses   pembelajaran   dan memberikan  referensi  lain  seperti  buku,  video pembelajaran,  audio  dan  referensi  lain  untuk mendukung  mahasiswa  memahami  materi  yang disampaikan.

 

 

Kebijakan kampus juga diharapkan mampu  memberikan  solusi  terhadap  persoalan-persoalan    yang    dihadapi    oleh    mahasiswa. Seperti  bantuan paket  kuota internet atau kebijakan biaya uang kuliah. Pengurangan    uang    kuliah    selama    masa pandemi Covid-19 dianggap sangat membantu mahasiswa. Selanjutnya para  pengajar  mampu  memberikan  motivasi kepada  mahasiswa  selama  proses  belajar  . Pengajar  lebih  kreatif  dan  inovatif  sehingga proses    kegiatan    belajar    mengajar    tidak membosankan.

 

 

 

 

 

 

 

INFORMASI TERKAIT

Serupa, namun tak sama, silahkan dibaca atau di unduh

Markesot Belajar Mengaji

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry.…

March 25, 2021